Langsung ke konten utama

Pencarian Makna Pulang



Tempatku Pulang?
Aku tak memilikinya
Cuma aku punya tempat tinggal
Aku punya
Tapi bukan tempat untuk pulang
Hanya tempat semua rutinitas terulang
Apa makna dari pulang?
Kehangatan dan keceriaan ada di dalamnya, katanya
Kata siapa?
Aku tanya kata siapa?
Disaat banyak yang bergumul tentang kerinduaan
Aku cuma diam
Setiap detik aku cari makna kata “pulang”
Setiap detik itu pula aku hanya berkutat pada pencarian tanpa jawaban
Apakah pulang sama halnya seseorang yang menyambut kita
dari dunia luar dan kembali ke rumah
Ah benar rumah
Apakah pulang adalah rumah?
Atau rumah adalah pulang?
Rumah
Pulang
Dan aku terus mencari
Pencarian  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...

Kita dan Kecewa

  “Bagaimana pun bentuknya kekecewaan itu mempunyai rasa yang sama. Pahit dan berbaur getir yang membuat dada membutuhkan ruang hanya sekedar untuk menghela napas" –babibinal   (Source: Pinterest) Hidup layaknya aliran air   terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering .Air. Aku selalu menyukai hadirya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Hingga rasa kecewa itu pergi dan membuat hati ini sedikit bisa bernapas bebas. Pikiran dan hati membuatku seolah digamblingkan dengan keselarasan. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Seolah dua buah kutub yang berbeda, mereka selalu   tolak-menolak. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Merasa dikecewakan oleh suatu keadaan membuat otak berpikir perbuatan itu tak pan...