Langsung ke konten utama

Seruan Pulang



Aku melihat engkau tercenung duduk di batas senja
Dengan bias cahaya menyilaukan
Entah kenapa semua panca indera seolah mati rasa
Melihat tanpa bisa mendekat
Menguacap namun tetap tak bersuara
Jejak dan tapakan juga perlahan memudar memuar bersama lautan
Setelahnya tanpa aba-aba engkau hilang
tenggelam bersama titik pusat tata surya
Menyisakan diam
Sendirian tanpa pegangan
Memang
Aku mengerti tak ada yang namanya keabadian
Perputaan angin, sapaan ombak
Semua bergerak, tak konstan
Di atas sana biru itu lesap bersamaan mega yang tak terihat
Di bawah sini buih sebentar datang sebentar lenyap
Lalu laut membisikan: Pulanglah

pulang, malam terlalu menakutkan  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...

Hujan, Senja, dan Jogja

  Hai, malam ini aku mau share cerpen yang aku bikin pas kuliah dulu, jujur agak nggak pd sih gatau juga bakalan ada yang baca atau enggak. Tapi dari pada sawangen ndeek laptop akhirnya aku share di sini, biar blog ini juga ada kehidupannya hehe. I hope you enjoy! This is my first story.  ____________________________________________________________________ Jogja selalu membawa rangkaian fragmen yang sulit dihilangkan dari memori terlebih hati. Setiap sudut kota ini membuat orang selalu rindu untuk kembali. Hari ini satu dari ribuan orang yang mencandu kota ini kembali, kembali menjejakkan kaki di kota istimewa, Yogyakarta. September 2016 Gerombolan orang keluar dari gerbong kereta yang bertuliskan Senja Utama, kereta jurusan Jakarta-Jogja atau juga sebaliknya. Terlihat   seorang perempuan tampak kebingungan menembus kerumunan orang yang ingin keluar dari kereta, perempuan itu tampak mencangkleng sebuah tas berukuran sedang juga membawa tas pakaian cukup besar di tan...