Langsung ke konten utama

Kita dan Kecewa




 “Bagaimana pun bentuknya kekecewaan itu mempunyai rasa yang sama. Pahit dan berbaur getir yang membuat dada membutuhkan ruang hanya sekedar untuk menghela napas" –babibinal
(Source: Pinterest)

Hidup layaknya aliran air  terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering .Air. Aku selalu menyukai hadirya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Hingga rasa kecewa itu pergi dan membuat hati ini sedikit bisa bernapas bebas. Pikiran dan hati membuatku seolah digamblingkan dengan keselarasan. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Seolah dua buah kutub yang berbeda, mereka selalu  tolak-menolak. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Merasa dikecewakan oleh suatu keadaan membuat otak berpikir perbuatan itu tak pantas dimaafkan, namun di lain sisi hati merasa terlalu  jahat bila hal itu tak dimaafkan. Hingga seringkali otak kalah debat dengan hati karena manusia lebih memilih mengadalkan nurani.
   Di kala kecewa itu memuncak, sekuat-kuatnya manusia dengan ego yang luar biasa ada kalanya akan tercapai suatu titik yang membuat dia tak bisa apa-apa. Seperti halnya karang, batuan yang kokoh berdiri di laut, dengan kekokohan dan kerasnya batu itu perlahan-lahan dia juga akan terkikis karena hantaman air laut yang terus menerus menderanya. Setiap manusia pasti pernah merasa dikecewakan, entah akan hal-hal sepele atau hal lain yang lebih besar. Kalau pun rasa kecewa itu ada pada tingkatan yang normal kita bisa saja lupa lalu dengan mudahnya berkata “yaudahlah nggak apa”. Namun di saat keewa itu menjelma menjadi betuk yang lebih kuat dan kita tak mampu menerimanya kecewa akan terus menerus mengendap dan kemudian berubah menjadi penyesalan. Menyesalkan hal-hal yag telah kita rangkum dan lakukan di kehidupan kita.
Aku seringkali merasakan kecewa itu sendiri, tanpa diungkap. Hingga endapan itu menimbun lalu membatu. Menyesakkan tanpa satu orang yang tahu. Ya memang benar walaupun kecewa itu diungkap tak ada hal yang berubah, namun setidaknya kita bisa meredakan dan membagian sedikit beban kepada seseorang bukan? Tak banyak yang mampu menyuarakan isi hatinya pada orang lain karena ketidakpercayaan, mungkin kerena pernah dikecewakan? Atau juga memang karena kepribadian.
Yang ingin aku bagikan adalah mengenai proses setelah dikecewakan. Kenapa harus  setelah kecewa? Karena berkat kecewa setidaknya kita bisa belajar akan ketangguhan dan kesiapan dalam bangkit dan berjalan kembali. Anggap sebagai sarana melatih diri dalam menghadapi kehidupan yang lebih keras nantinya. Tidakkah lebih menyenangkan kita lihat kekecewaan itu dari lain sisi. Misalnya, berkaca pada diri sendiri apakah kita pernah mengecewakan orang lain? Karena manusia memang seperti itu, baru sadar saat kita sendiri yang mengalami dan lalu introspeksi.
Sesungguhnya saat kita mengecewakan orang lain, adakah kita sendiri sadar atau tidak sama sekali? Saat kita dikecewakan akankah kita bisa memaafkan? Dua sisi yang membutuhkan pengertian satu sama lain. Dua hal yang sejatinya perlu untuk kita lakukan. Saat kita sadari bahwa angin tetap berlalu dan air terus mengalir, seperti itu pula kita harus melepaskan segala beban dan rasa kecewa yang perlahan mengikis dinding hati. Karena ketika kecewa memudar saat itu juga beban perlahan menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencarian Makna Pulang

Tempatku Pulang? Aku tak memilikinya Cuma aku punya tempat tinggal Aku punya Tapi bukan tempat untuk pulang Hanya tempat semua rutinitas terulang Apa makna dari pulang? Kehangatan dan keceriaan ada di dalamnya, katanya Kata siapa? Aku tanya kata siapa? Disaat banyak yang bergumul tentang kerinduaan Aku cuma diam Setiap detik aku cari makna kata “pulang” Setiap detik itu pula aku hanya berkutat pada pencarian tanpa jawaban Apakah pulang sama halnya seseorang yang menyambut kita dari dunia luar dan kembali ke rumah Ah benar rumah Apakah pulang adalah rumah? Atau rumah adalah pulang? Rumah Pulang Dan aku terus mencari Pencarian  

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...