Langsung ke konten utama

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri. 

            Novel ini memberikan gambaran antara dua kebudayaan serta agama yang berbeda. Tokohnya Sarwono dan Pingkan adalah dua sosok dengan latar belakang yang berseberangan. Dua manusia yang saling mencintai namun terhalangi oleh perbedaan. Agama merupakan sebuah tembok pembatas yang membuat mereka sulit bersama. Keluarga Pingkan yang memaksa dia menikah dengan dosen di kotanya semakin menambah ketidaknyamanan hubungan anatara Pingkan dan Sarwono. Tak terkecuali dengan latar kebudayaan berbeda yang juga menambah pembatas tak kasat mata diantara keduanya. Novel ini mengupas bagaimana konflik dan pertentangan antar kedua tokoh utama, keluarga serta lingkungannya. Penggambaran Sapardi mampu membuat kita membuka pikiran akan gejala-gejala sosial yang nyata ada disekeliling kita.  

Sebuah pergolakan serta kebingungan tentang asal usul diri juga terulas di sini. Bagaimana tokoh Hartini serta Pingkan yang merasa dilema dengan keaslian sukunya, apakah Jawa-Solo, Makassar atau Manado. Pingkan yang lahir di Manado namun dibesarkan di Solo dan Hartini keturunan Jawa yang tinggal di Makassar. Hal ini semakin diperjelas dengan pernyataan ibu Pingkan, Hartini, bahwa ia orang Jawa yang sejak lahir menjadi orang Makassar lalu dibawa ke Manado, bahwa ia bukan orang Jawa sepenuhnya, karena besar di Makassar serta tinggal di Manado cukup lama. Hal serupa terjadi dengan Pingkan. Dalam novel ini diceritakan oleh Sapardi bahwa Pingkan merupakan campuran dari Manado dan Jawa. Pingkan adalah keturunan Manado dan Jawa tapi bukan Manado sepenuhnya atau Jawa seutuhnya. Kegamblingan latar belakang ini membuat Pingkan serta Hartini menjadi ragu akan makna yang disebutkan orang sebagai ‘daerah asal’ itu. Kita juga dapat menilik novel  karya HAMKA yakni Teggelamnya Kapal van Der Wijk, permasalahan mengenai asimilasi kebudayaan juga dapat kita temui dalam novel itu. Di mana Zainuddin dianggap sebagai orang tidak bersuku, ibunya berdarah Bugis dan ayah berdarah Minang, statusnya dalam masyarakat Minang yang bernasibkan garis keturunan ibu membuatnya tidak diakui. Novel karya HAMKA tersebut dapat memberikan gambaran bahwa asimilasi dua kebudayaan dapat mengkaburkan budaya asli orang itu sendiri. Kembali pada novel Hujan Bulan Juni yang membuat Hartini seolah kehilangan sebagian budaya Jawa karena tinggal di Makassar sejak kecil. Begitu juga dengan Pingkan yang merasa Jawa namun juga Manado. Kedua novel ini menggambarkan bagaimana ketidakjelasan budaya yang terjadi akibat percampuran dua kebudayaan yang berbeda dan menimbulkan sesorang kehilangan budaya asli yang dia dapatkan sebelumnya.

Konsep mengenai religiusitas juga tercermin dalam novel ini, religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan atau diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokohnya keyakinan, seberapa taatnya pelaksanaan ibadah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya (Read: jalurilmu.blogspot.com). Konsep ini ada pada novel namun dalam bentuk yang tidak terlalu dikentarakan oleh Sapardi, hanya beberapa bagian saja yang mengulas perbedaan agama tokoh Pingkan serta Sawono. Permasalahan religiusitas dalam novel ini muncul dengan mengangkat sebuah cerita perkawinan lintas agama yang mana direncanakan oleh Sarwono dan Pingkan. Permasalahan bedanya agama antara keduanya tidak telalu digubris oleh orangtua Pingkan maupun Sarwono namun lebih kepada keluarga besar Pingkan di Manado. Dengan berbagai cara mereka selalu bertanya pada Pingkan tentang hubungannya dengan Sarwono. Pertanyaan yang berniat menyudutkan, berharap Pingkan tidak melanjutkan hubungan dengan Sarwono. Sayangnya perbedaan antara keduanya dan pertentangan agama yang dipermasalahkan oleh keluarga besar Pingkan tidak diuraikan secara jelas solusinya pada novel ini.

Sejatinya kedua tokoh utama tidak mempersoalkan apa itu suku beda, ataupun keyakinan yang berbeda. Hanya lingkungan dan keluarga besar dari pihak Pingkanlah yang mempermasalahkan hal itu. Hal itu dikarenakan mereka masih memegang  teguh kebudayaan dan agama yang adalah hal sakral serta penting untuk mereka.

 Akhir cerita dalam novel ini tidak mencapai penyelesaiannya atau dapat dikatakan menggantung. Mungkin karena Sapardi ingin membuat pembacanya penasaran dengan trilogi dari Hujan Bulan Juni. Dirilisnya series dari novel Hujan Bulan Juni selanjutnya yakni Pingkan Melipat Jarak dapat menjadi jawaban akan ketidakjelasan nasib Sarwono.

Secara keseluruhan walaupun novel Hujan Bulan Juni tidak mendapat ulasan yang selalu positif dari pembaca namun kemunculan novel karya Sapardi ini dapat menjadi udara segar bagi penikmat karya sastra Indonesia khusunya penggemar penyair ini. Walaupun tersusun dalam bentuk novel namun setiap kata yang Sapardi tulis seakan berubah menjadi untaian kata puitis layaknya puisi yang dia ciptakan. Membaca novel ini kita dihadapkan akan tulisan puitik, romantik yang menjadi ciri khas SDD, layaknya membaca syair dalam bentuk novel. Selipan syair khususnya tiga syair yang ada di halaman terakhir novel ini membentuk sebuah kata-kata yang sederhana dan sangat indah dan juga penuh metafora. Sapardi mengaku bahwa puisi itu seni kata. Seni kata paling tinggi adalah metafora. Karena itu Sapardi telah menuliskan sebuah kata yang penuh dengan nilai seni yang tinggi.

            Sapardi Djoko Damono seorang sastrawan  yang masih aktif menulis hingga akhir usianya, 80 tahun berkarya dengan seluruh jiwa, membuat pribadinya tidak pernah ditelan waktu layaknya sajak yang dia tulis Yang fana adalah waktu. Kita abadi. Begitulah Sapardi dengan karya-karyanya yang akan selalu abadi.

Dalam rangka mengenang Eyang Sapardi Djoko Damono, tulisan ini adalah sedikit rangkuman karyanya yang sangat kita tahu. Hujan Bulan Juni.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencarian Makna Pulang

Tempatku Pulang? Aku tak memilikinya Cuma aku punya tempat tinggal Aku punya Tapi bukan tempat untuk pulang Hanya tempat semua rutinitas terulang Apa makna dari pulang? Kehangatan dan keceriaan ada di dalamnya, katanya Kata siapa? Aku tanya kata siapa? Disaat banyak yang bergumul tentang kerinduaan Aku cuma diam Setiap detik aku cari makna kata “pulang” Setiap detik itu pula aku hanya berkutat pada pencarian tanpa jawaban Apakah pulang sama halnya seseorang yang menyambut kita dari dunia luar dan kembali ke rumah Ah benar rumah Apakah pulang adalah rumah? Atau rumah adalah pulang? Rumah Pulang Dan aku terus mencari Pencarian  

Kita dan Kecewa

  “Bagaimana pun bentuknya kekecewaan itu mempunyai rasa yang sama. Pahit dan berbaur getir yang membuat dada membutuhkan ruang hanya sekedar untuk menghela napas" –babibinal   (Source: Pinterest) Hidup layaknya aliran air   terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering .Air. Aku selalu menyukai hadirya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Hingga rasa kecewa itu pergi dan membuat hati ini sedikit bisa bernapas bebas. Pikiran dan hati membuatku seolah digamblingkan dengan keselarasan. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Seolah dua buah kutub yang berbeda, mereka selalu   tolak-menolak. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Merasa dikecewakan oleh suatu keadaan membuat otak berpikir perbuatan itu tak pan...