Langsung ke konten utama

Saat ini yang akan kita isi

Hari ini menuju tengah siang yang terik aku membuka file-file lama yang menumpuk di laptop,
folder foto di masa lalu entah bagaimana caranya melemparku kembali
membangkitkan rasa dan suasana saat itu.
Bagaimana memori itu kembali menyeruak nyata menghadirkan potongan fragmen yang kemudian membentuk gambaran utuh berbentuk perasaan.
Selamat bagi kalian yang punya foto saat ini,
karena bertahun-tahun lagi ketika kalian ingin kembali ke masa ini, foto adalah tempat yang tepat untuk sejenak melampiaskan semua gejolak yang mendobrak hati,
dan jika kalian tidak punya potret itu jangan khawatir, ada tinta dan kertas yang melambai untuk kalian isi. Mereka juga sama berharga dari lembaran atau potongan gambar yang tersimpan usang.
Selamat merangkum hari ini untuk nanti kalian buka dengan rasa haru.

-Dari aku di rumah kala jam menunjuk angka 11 siang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...

Hujan, Senja, dan Jogja

  Hai, malam ini aku mau share cerpen yang aku bikin pas kuliah dulu, jujur agak nggak pd sih gatau juga bakalan ada yang baca atau enggak. Tapi dari pada sawangen ndeek laptop akhirnya aku share di sini, biar blog ini juga ada kehidupannya hehe. I hope you enjoy! This is my first story.  ____________________________________________________________________ Jogja selalu membawa rangkaian fragmen yang sulit dihilangkan dari memori terlebih hati. Setiap sudut kota ini membuat orang selalu rindu untuk kembali. Hari ini satu dari ribuan orang yang mencandu kota ini kembali, kembali menjejakkan kaki di kota istimewa, Yogyakarta. September 2016 Gerombolan orang keluar dari gerbong kereta yang bertuliskan Senja Utama, kereta jurusan Jakarta-Jogja atau juga sebaliknya. Terlihat   seorang perempuan tampak kebingungan menembus kerumunan orang yang ingin keluar dari kereta, perempuan itu tampak mencangkleng sebuah tas berukuran sedang juga membawa tas pakaian cukup besar di tan...

Seruan Pulang

Aku melihat engkau tercenung duduk di batas senja Dengan bias cahaya menyilaukan Entah kenapa semua panca indera seolah mati rasa Melihat tanpa bisa mendekat Menguacap namun tetap tak bersuara Jejak dan tapakan juga perlahan memudar memuar bersama lautan Setelahnya tanpa aba-aba engkau hilang tenggelam bersama titik pusat tata surya Menyisakan diam Sendirian tanpa pegangan Memang Aku mengerti tak ada yang namanya keabadian Perputaan angin, sapaan ombak Semua bergerak, tak konstan Di atas sana biru itu lesap bersamaan mega yang tak terihat Di bawah sini buih sebentar datang sebentar lenyap Lalu laut membisikan: Pulanglah pulang, malam terlalu menakutkan