Langsung ke konten utama

Catatan Akhir September

Setelah wacana panjang untuk balik produktif menulis akhirnya malam ini memaksakan diri untuk kembali bercengkrama dengan layar dan keyboard. 

Sejujurnya masih abu-abu sih mau nulis apa, tapi biar ngalir aja mau ngomongin apa. Oh ini aja sih, kesesakanku selama beberapa bulan ini, tepatnya setelah lulus dan udaah lepas dari title maha sekarang. Kalian yang baru sekolah atau kuliah mungkin ngerasain bosen banget sama rutinitas sekarang yang apa-apa serba online (ini konteksnya under 20 ya). Capek sama tugas yang numpuk sana sini, kesel sama guru atau dosen yang nggak jelasin materi tapi nuntut buat kita pahami apa yang dia ajarin with tugas. Bosen sama apa-apa yang serba virtual, rasa-rasanya pengen sekolah atau kuliah langsung aja gitu, kumpul sama temen, kangen vibesnya kelas betul? Hei kita sama tau ngga. Bedanya aku udah ngga bisa balik lagi ke masa itu tapi kalian masih ada di saat itu. Punya wadah dan komunitas. Gatau deh kadang ada rasa kosong aja gitu, udah gaada ambis mau dapet nilai yang tinggi ngejar apa yang harus aku kejar, entah itu IPK atau pertahanin yang udah didapet selama kuliah. 

Sekarang? Tetep ada ambis juga sih cuman ya realisasinya itu lo, kayak aku masih ngerasa kurang greget. But overall, banyak banget planing yang udah aku susun. Banyak banget cita-cita yang ada di kepala yang ga tau bakalan gimana nantinya. Saat ini cuma bisa jalan terus walau banyak goncangan (lebih ke pikiran sih yang ngebatasin sebenernya). Harapan yang udah lama aku tunda-tunda, entah nunggu apa. Cita-cita yang rasanya kayak nyuruh cepet dicapai cuma akunya yang ngerasa udah entaran aja, sekarang jeda dulu buat nikmatin hidup. Tapi mau sampai kapan ya ga sih? Badan udah terlalu dimanjain sekarang, ga sehat sumpah gerak dikit aja capek. 

Tapi aku berusaha buat menyerahkan semuanya sama Dia, bukan pasrah tapi berserah. Karena kalau kita pasrah yaudah kita akhirnya malah menyerah, tapi kalau kita berserah kita tetep berusaha tapi Tuhan yang tentuin. Kalian tau ngga sih pas banget aku nulis ini terus auto playlistku "All to Jesus I Surrender". Wow. He is High! Ini buktiin kalau setiap halnya kita musti percaya dan lakuin dengan sepenuh hati. Buat Tuhan bangga sama kita okee! 

Biar tulisan ini jadi pengingat buat aku juga :)

And now how about you? Adakah yang relate? Atau aku aja? 

Aku harap kita tetep bisa menjalani hari-hari ini dengan penuh rasa syukur dan semangat yaa! For your beautiful feature with God!

September 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencarian Makna Pulang

Tempatku Pulang? Aku tak memilikinya Cuma aku punya tempat tinggal Aku punya Tapi bukan tempat untuk pulang Hanya tempat semua rutinitas terulang Apa makna dari pulang? Kehangatan dan keceriaan ada di dalamnya, katanya Kata siapa? Aku tanya kata siapa? Disaat banyak yang bergumul tentang kerinduaan Aku cuma diam Setiap detik aku cari makna kata “pulang” Setiap detik itu pula aku hanya berkutat pada pencarian tanpa jawaban Apakah pulang sama halnya seseorang yang menyambut kita dari dunia luar dan kembali ke rumah Ah benar rumah Apakah pulang adalah rumah? Atau rumah adalah pulang? Rumah Pulang Dan aku terus mencari Pencarian  

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...

Kita dan Kecewa

  “Bagaimana pun bentuknya kekecewaan itu mempunyai rasa yang sama. Pahit dan berbaur getir yang membuat dada membutuhkan ruang hanya sekedar untuk menghela napas" –babibinal   (Source: Pinterest) Hidup layaknya aliran air   terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering .Air. Aku selalu menyukai hadirya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Hingga rasa kecewa itu pergi dan membuat hati ini sedikit bisa bernapas bebas. Pikiran dan hati membuatku seolah digamblingkan dengan keselarasan. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Seolah dua buah kutub yang berbeda, mereka selalu   tolak-menolak. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Merasa dikecewakan oleh suatu keadaan membuat otak berpikir perbuatan itu tak pan...