Hai, malam ini aku mau share cerpen yang aku bikin pas kuliah dulu, jujur agak nggak pd sih gatau juga bakalan ada yang baca atau enggak. Tapi dari pada sawangen ndeek laptop akhirnya aku share di sini, biar blog ini juga ada kehidupannya hehe. I hope you enjoy! This is my first story.
____________________________________________________________________
Jogja selalu membawa rangkaian fragmen
yang sulit dihilangkan dari memori terlebih hati. Setiap sudut kota ini membuat
orang selalu rindu untuk kembali. Hari ini satu dari ribuan orang yang mencandu
kota ini kembali, kembali menjejakkan kaki di kota istimewa, Yogyakarta.
September
2016
Gerombolan
orang keluar dari gerbong kereta yang bertuliskan Senja Utama, kereta jurusan
Jakarta-Jogja atau juga sebaliknya. Terlihat
seorang perempuan tampak kebingungan menembus kerumunan orang yang ingin
keluar dari kereta, perempuan itu tampak mencangkleng sebuah tas berukuran
sedang juga membawa tas pakaian cukup besar di tangan kanannya. Dia tampak kesulitan
untuk menembus kerumunan orang-orang yang ingin segera keluar dari gerbong
kereta. Hingga setelah hampir sepuluh menit berdesak-desakan dia berhasil
keluar dari kereta itu. Masalah kembali menimpanya karena postur tubuh yang
tidak terlalu tinggi membuat dia sedikit kesulitan untuk mencari seseorang yang
akan ditemuinya. Perempuan itu menyisir setiap sudut stasiun namun tidak dia
temui orang yang dia cari. Dia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya
mencari kontak dan segera menelepon. Tidak lama kemudian teleponnya tersambung.
“Halo?”
“Halo Tasya, kamu dimana aku sudah
sampai di stasiun.”
“Aduh maaf Lus, di angkringan depan
stasiun lagi makan laper hehe, kamu ke sini aja ya tahu kan tempatnya. Pokoknya
aku tunggu disini, nggak pakai nolak. Bye!”
Belum sempat Lusa menimpali, sambungan
telepon itu terputus. Lusa menghela napas mengingat kelakuan sepupu dari
ayahnya itu. Dengan segera dia berjalan keluar dari stasiun dan menuju
angkirngan yang dimaksud oleh Tasya. Tidak lama dia berjalan Lusa lalu sampai
di angkirangan itu, angkringan yang menjajakan makanan dan macam-macam lauk
pauk juga kopi joss sebuah kopi hitam
yang dalam penyajiannya ditambah dengan arang, tidak ketinggalan juga nasi
kucing yaitu nasi dengan porsi sedikit. Tasya melambai melihat Lusa berdiri tidak
jauh dari tempatnya duduk, Lusa langsung menghampiri Tasya.
“Kamu ya aku tunggu disana kebingungan
malah enak-enakan makan disini.”
“Yah maaf Lus keburu mag aku kabuh.”
Tasya
menjawab dengan cengiran lalu dia menyuruh Lusa untuk memesan makanan. Setelah
mengambil makan dari gerobak angkringan Lusa kembali duduk lesehan di atas
tikar. Suasana malam Jogja yang telah lama dia rindukan. Suara pengamen yang
melantunkan lagu yang mampu menamparnya telak.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa
makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku
terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiriDitelan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada
tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Yogyakarta membuatnya kembali mengingat
kenangan-kenangan dulu. Pikirannya berkeliaran ke saat itu, saat dimana dia
pertama kali menjejak ranah Sultan ini.
***
Juli 2014
Gelap malam kala itu membuatnya
mempercepat langkah kakinya, sapuan angin kembali menimpa kulitnya, dia merapatkan
jaket untuk menghalau udara dingin yang menusuk kulit. Malam tambah larut
ketika Lusa sampai di halte bis trans Jogja. Sepertinya alam telah
berkonspirasi dengan kesialannya hari itu, halte trans Jogja telah tutup. Lusa
mengecek jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul sepuluh lewat
sepuluh. Lusa berdecak, pantas saja telah lewat sepuluh menit bis berhenti
beroperasi. Tidak mau merepotkan bude juga sepupunya Lusa memilih untuk
berjalan dan berharap bertemu dengan angkutan umum lainnya. Beberapa menit
berjalan tapi tidak juga dia menemui bis ataupun taksi hingga setetes air
mengenai tangannya membuat dia mengadah ke langit. Tiba-tiba tetesan air itu
berubah menjadi guyuran air yang cukup deras. Hujan menambah daftar kesialannya
hari itu. Buru-buru Lusa mencari tempat berteduh, matanya mengitari sekeliling
jalan dan dia menangkap sebuah emperan kedai kopi yang cukup terang dan bisa
dia gunakan untuk meneduh.
Lusa memandangi jalanan yang diguyur
hujan begitu lebatnya tanpa dia sadari seorang laki-laki melihatnya dari dalam
kedai itu.
“Mbak kalau mau tunggu di dalam saja
hujannya kelihatannya awet dari pada tunggu di luar dingin.”
Suara itu mengagetkan Lusa dengan volume
suara sedikit dikeraskan karena teredam hujan Lusa menimpalinya.
“Iya mas terimakasih.”
Menimbang-nimbang Lusa akhirnya masuk ke
kedai itu.
Interior dalam kedai terlihat sangat
berbeda dari luar. Desain yang sederhana namun mampu membuatnya berdecak kagum.
Cahaya lampu yang tidak terlalu terang tampak hangat dan menyatu dengan cat
berwarna coklat pastel. Di bagian sudut
ruangan itu terdapat rak-rak buku yang membentuk barisan abstrak memberi kesan
unik. Penataan kursi dan meja juga tidak membosankan, kursi berwarna nila
membuat tempat itu tambah mengesankan, deretan meja kayu juga membuat kesan
hangat semakin tercipta. Lusa memilih duduk di dekat jendela, spot paling dia sukai setiap mendatangi
kedai kopi. Laki-laki itu tersenyum ramah padanya hingga sebuah lekukan di pipi
laki-laki itu terlihat manis. Semakin jelas wajah laki-laki itu terihat, dengan
kacamata yang bertengger di atas hidung. Dia memberikan secangkir kopi pada
Lusa. Kepulan dari kopi membuat perasaannya sedikit lega, dadanya hangat
mencium aroma kopi itu, hingga tanpa sadar Lusa berkata.
“Melya.”
Laki-laki itu tersenyum mendengar pernyataan
dari Lusa, seperti tahu apa yang ada di pikirannya dia kembali menimpali Lusa.
“Kamu pecinta kopi? Jarang saya ketemu
perempuan yang suka kopi Melya. Oh iya saya Arkan.”
Lusa tergagap mendengar ucapan Arkan,
tanpa dia sadari kata-kata itu meluncur begitu saja namun telanjur dia lalu
menyambut uluran tangan Arkan. Arkan mengenalkan dirinya dengan singkat, mahasiswa
di salah satu kampus negeri di Jogja dan bekerja parttime di kedai kopi ini.
“Iya lumayan. Saya Lusa.”
“Lusa? Nama yang unik.”
Arkan kembali tersenyum mendengar
perkenalan dari Lusa, membuat Lusa terperangah melihat senyum dari Arkan. Suatu
senyum yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, senyum yang terlihat sangat
tulus. Hening. Seperti tersedot kesadarannya Lusa bungkam namun tiba-tiba suara
dari ponselnya menyadarkan Lusa.
“Lusa kamu dimana? Kok belum sampai
dirumah? Kamu baik-baik aja kan?”
“Iya bude Lusa baik-baik saja, ini
sudah perjalanan pulang tadi hujan jadi berhenti sebentar.”
“Oalah
bude suruh Tasya jemput ya udah malam kamunya kasihan kalau sendiri.”
“Nggak usah bude, Lusa udah deket
rumah kok.”
“Yo
uwis hati-hati ya nduk.”
Telepon terputus, Lusa bergegas untuk
pulang dia sempat membulatkan matanya melihat jam yang telah menunjuk angka
sebelas malam. Terburu-buru dia lalu pamit pada Arkan, melihat suasana luar
hujan yang telah sedikit reda hanya menyisakan rintikan kecil membuat Lusa
sedikit lega. Setidaknya dia tidak akan terlalu basah kuyup sampai di rumah.
Sampai di pintu keluar kedai itu seruan Arkan menghentikan langkah Lusa.
“Ini bawa saja, gerimis gini malah cepat
bikin flu.”
Arkan memberikan payung padanya, dengan
canggung Lusa menerima payung itu. Mereka tidak menyangka bahwa sebuah
pertemuan singkat malam itu menciptakan benang tak kasat mata di antara
keduanya. Malam di bulan Juni diselingi gerimis dan saksi secangkir kopi yang
mempertemukan kedua manusia di kota Jogja.
***
Agustus
2014
Yogyakarta selain memiliki banyak budaya
juga menyimpan ratusan makna yang saling berkaitan. Sumbu imajiner dan sumbu
filosofi adalah salah satunya. Garis lurus dari Tugu sampai Panggung Krapyak
menjadi cerminan betapa kayanya kota ini. Setiap sudut kota ini menyimpan
banyak arti yang tersembunyi entah kita peduli dan sadar atau tidak. Pendar
remang yang tercipta dari lampu bolam kuning menjadi pemandangan biasa ketika
Lusa sampai di angkringan yang dia kunjungi malam ini. Bersamaan dengan itu
suara pengamen menyita perhatiannya seketika, suara yang cukup bagus
menurutnya. Lusa yakin jika mereka mengikuti ajang pencarian bakat mungkin bisa
menjadi saingan yang cukup berat bagi kontestan lain. Ya musisi jalanan yang
menambah semarak malam Jogja.
Jejeran makanan mulai dari nasi kucing,
nasi teri, nasi sambal juga deretan lauk pauk yang ditusuk mengunakan sebuah
lidi membentuk sate terlihat disusun rapi diatas gerobak dorong. Disana juga
tertulis kopi joss, kopi hitam panas
yang ditambah dengan arang yang masih membara. Kopi yang hanya dapat ditemui di
Jogja. Menyisir sekitarnya mencari tempat duduk yang lengang Lusa memilih duduk
di ujung angkringan ini. Sabtu malam membuat jalanan dan tempat makan di Jogja
dipenuhi manusia yang sedang jalan-jalan atau sekedar mencari makan. Sebelum
duduk Lusa menangkap seseorang yang memanggilnya. Dia lalu memalingkan
kepalanya dan memang benar di belakangnya sesosok laki-laki tinggi tegap
berkacamata melihatnya disertai senyum simpul menghias bibirnya.
“Benar kamu. Sendirian saja?”
Lusa memfokuskan pandangannya, malam
membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat. Hingga setelah jarak mereka semakin
dekat Lusa mengenalinya. Arkan. Dia tersenyum dan menjawab pertanyaan Arkan
tadi.
“Eh iya sendiri, lagi pengen jalan-jalan
bosen di rumah.”
Arkan yang mendengar jawaban dari Lusa
lalu tertawa.
“Yaudah sama saya aja, ayo.”
Ingin menjawab namun perkataan Lusa terhenti
saat Arkan mulai berjalan dan duduk meninggalkan Lusa, mau tidak mau dia lalu
menyusul Arkan.
“Kamu nggak kerja Ar?”
“Lagi nggak ada shift dan jadilah saya ke sini.”
Lusa mengangguk dan membuka bungkusan
nasinya bersamaan dengan itu pesannan minumnya datang.
“Kamu sudah pernah coba kopi joss?”
Lusa menggelengkan kepalanya.
“Cobalah.”
Arkan menggeser kopinya ke Lusa.
Ragu-ragu dia menerimanya. Aroma terbakar tercium dengan kuatnya. Rasa manis
yang pas terasa bercampur dengan kopi dan arang yang membara.”
“Bagaimana?”
“Saya suka aromanya.”
Arkan puas mendengar penilaian Lusa, dia
juga paling suka dengan aroma kopi yang dihasilan bercampur dengan arang yang
membara. Tiba-tiba Arkan teringat dengan satu hal dia lalu mengajak Lusa.
“Kamu mau jalan-jalan kan? Ikut saya ayo.”
“Tapi…”
“Tenang saya nggak bakalan culik kamu
kok.”
“Bukan begitu tapi…ya udahlah.”
Mendengar persetujuan Lusa, Arkan lalu
mengambil motor yang terparkir di depan angkringan itu. Pembeli yang datang
semakin memadati angkringan. Setelah berhasil mengeluarkan motor dan memberi
uang parkir Arkan menyuruh Lusa untuk memboncengnya. Ragu-ragu Lusa menaiki
motor Arkan hingga tidak terasa mereka menembus ramainya malam kota Jogja.
Duapuluh menit berlalu Arkan
menghentikan motornya di sebuah tempat yang di penuhi dengan orang-orang yang
berkumpul di depan bangunan berbentuk kubus setinggi tujuhbelas meter. Mereka
lalu turun dari motor dan Arkan mengajak Lusa untuk mendekat di kerumunan
orang-orang itu. Latar dari bangunan yang tadinya disinari lampu kini berubah
gelap tanpa pencahayaan. Namun tiba-tiba sebuah cahaya perlahan-lahan membentuk
gambaran indah di latar bagunan itu. Kumpulan cahaya itu membentuk pepohonan juga
bulan purnama terlukiskan indah lalu berubah lagi menjadi bangunan bertembok
hingga diakhiri menjadi gambaran bermacam-macam penokohan wayang. Lusa
terperangah melihatnya. Sangat indah.
“Tempat ini namanya panggung krapyak dan
yang di depan sana adalah video mapping,
rangkaian penutupan dari Festival Kesenian Yogyakarta. Saya baru ingat tadi waktu
makan dan untungnya saja belum selesai.”
Arkan tertawa mengingat kebodohannya.
“Panggung Krapyak, em.. sebagai orang
luar Jogja yang dua tahun disini wajar nggak sih saya baru tahu ada tempat ini?”
“Nggak ada yang salah karena setiap
orang punya hal yang mereka tahu dan nggak tahu kan.”
Arkan membalas Lusa dengan senyum yang
menjadi andalannya, senyum yang entah kenapa membuat efek lain pada diri Lusa.
“Tapi sebenarnya saya mau ngajak kamu
kesini bukan karena itu. Panggung Krapyak ini punya filosofi sendiri. Filosofi
yang mungkin banyak orang di Jogja belum tahu. Sebenarnya Jogja punya titik
imajiner dimulai dari Panggung Krapyak ini sampai Tugu. Panggung Krapyak adalah
titik awalnya, menggambarkan alam barzakh.
Alam ini dimengerti sebagai tempat jiwa bersemayam sebelum embrio ditiupkan
dalam rahim.”
Lusa tertegun mendengar penjelasan
Arkan, dalam benaknya dia terkesan pada Arkan. Orang yang benar-benar mengerti
kota kelahirannya karena tidak banyak pemuda yang mau tahu mengenai daerahnya
sendiri.
“Kamu harusnya kuliah Arkeologi Ar bukan
Teknik Sipil.”
Arkan kembali tertawa mendengar
pernyataan Lusa dia lalu menimpali Lusa.
“Bagi saya apapun jurusan kuliah itu
tidak ada pengaruhnya dengan pengetahuan kita tentang kota kelahiran sendiri.
Budaya yang ada itu kewajiban kita untuk menjaga bukan?”
Tak tahu harus menjawab apa Lusa memilih
diam tak menimpali pertanyaan Arkan yang retoris itu. Melirik jam tangannya
Lusa jadi terburu untuk pulang.
“Saya antar yuk, sekalian saya mau ke
kedai.”
“Eh nggak usah Ar, lagian jauh jarak
kedai sama rumah saya.”
“Udah nggak apa, ayo.”
Sekali lagi Lusa tidak bisa menolak
ajakan Arkan. Lagi pula dia tidak mau membuat bude dan sepupunya kembali
khawatir. Pukul sebelas malam dia sampai di rumah. Arkan lalu pamit pulang pada
Lusa. Malam yang terihat lebih terang disbanding biasanya, bulan tampak bulat
penuh menggantung di langit kala itu. Bintang tak mau kalah menampakkan
kecantikannya menghias atap langit. Lusa sejenak mengadah ke langit sesaat
setelah motor Arkan melaju pergi dari depan rumah bude Lusa.
Senja
menjelma menjadi petang
Dengan
bulan yang muncul menggantikan matahtari
Aku
disini melihat mereka bergumul
Tentang
apakah mereka bisa bertukar peran
Siang
dengan bulan
Malam
dengan matahari
Tanpa
adanya bintang
Tanpa sadar Lusa telah sampai di
kamarnya dia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Menutup mata dan bayangan itu
kembali terulang seperti video yang diputar tanpa putus. Pertemuannya dengan Arkan
pertama kali dan hari ini, entah kenapa mengingat nama itu membuat dadanya
terasa hangat. Arkan seakan memiliki sebuah magnet yang menarik orang di
sekitarnya, kepribadiannya dan pemikirannya membuat Lusa kagum. Ya dia nyaman
dengan laki-laki itu. Hingga tanpa sadar Lusa terlelap.
***
Oktober
2014
Lusa membenarkan letak kameranya.
Sore itu dia berada di alun-alun selatan, Lusa mengarahkan kameranya ke
kerumunan anak kecil bersama keluarganya. Dia tersenyum melihat hasil
potretannya, ingatan akan masa kecilnya di tempat ini bersama kedua orang
tuanya hadir memenuhi kepalanya.
“Kebetulan untuk ketiga kalinya saya
bertemu lagi dengan kamu.”
Lusa mengalihkan pandangan dari
kameranya ke samping kanan, dia terkejut melihat lagi-lagi Arkan di hadapannya.
Arkan lalu menghampiri Lusa.
“Kata orang pertemuan yang terjadi
lebih dari dua kali dan tidak sengaja itu bisa disebut takdir.”
Arkan kembali berbicara tidak lupa
dengan senyum yang dia berikan pada Lusa. Perkataan Arkan itu lalu dibalas oleh
Lusa.
“Mungkin bukan takdir tapi kamu yang
nguntit saya.”
Lusa menjawab dengan mata yang dia
sipitkan membuat Arkan yang mendengarnya lantas tertawa.
“Yah saya ketahuan. Coba saya tebak,
lagi jalan-jalan karena bosan lagi?”
Lusa mengangguk-angguk tanda pertanyaan
Arkan itu benar.
“Okelah Lusa kamu lagi beruntung
kali ini saya bisa jadi guide kamu
lagi.”
Lusa
tertawa mendengar perkataan Arkan, dia lalu berjalan mengitari alun-alun selatan
untuk mencari objek foto lain bersama Arkan.
“Alun-alun ini, ada filosofinya
juga?
Dengan
mengarahkan kameranya ke bagunan di depannya Lusa bertanya pada Arkan.
“Ada..,” mengarahkan pandangan
kesamping, Arkan lalu melanjutkan, “alun-alun ini juga punya filosofi, di mana
sesorang disimbolkan telah menginjak usia dewasa masa di mana orang merasakan
cinta. Jogja, punya banyak misteri.”
Hening tercipta diantara keduanya.
Hanya angin yang berhembus pelan dan suara ramainya orang-orang disekitar
mereka yang terdengar.
“Kenapa semesta seakan ingin saya
bertemu kamu saat saya kacau begini.”
Arkan berkata dengan lirih namun
masih bisa ditangkap oleh Lusa. Keduanya masih diliputi keheningan namun jauh
dari kata canggung hanya hening yang membuat mereka nyaman. Senja di kota Jogja
kali itu adalah senja terbaik yang mereka rasakan. Langit yang menampakkan
gradasi warna jingga kemerahan dan dihiasi dengan laying-layang tertiup angin
menambah cantik langit saat itu.
“Saya mau pamit sama kamu Lus, entah
kenapa saya bilang ini sama kamu. Tapi saya ngerasa kamu perlu tahu. Aneh ya
saya.”
Kekehan terpaksa Arkan membuat Lusa
mengernyit bingung.
“Pamit?”
“Ya saya harus kembali ke rumah
orang tua saya di Jepang dan mungkin nggak kembali ke Indonesia lagi. Juga satu
lagi, ini untuk kamu.”
Arkan memberikan sebuah surat pada
Lusa. Dengan gerakan kaku Lusa menerimanya, entah kenapa dadanya serasa dihantam.
Dia merasa sesak seketika. Nggak kembali lagi.
Nggak kembai. Kata-kata itu terus terulang di kepalanya. Ingin rasanya Lusa
mencegah namun dia sadar siapa dirinya dan hei apa haknya, dia bukanlah
siapa-siapa untuk Arkan. Senja sore itu membuat hatinya tak karuan, tanpa
disadari dan tanpa dia ketahui hatinya telah memilih seseorang.
Senja
menjadi saksi
Dua
manusia dibawah atap langit
Bertatap
namun tak menyadari
Hati
yang telah saling terisi
***
Akhir Oktober 2016
Dua tahun berlalu semenjak kejadian itu
hingga Lusa perlahan mulai menata hidupnya lagi dan pagi ini Lusa membereskan kamarnya, kamar yang sama dia
gunakan saat di Jogja dan berkuliah dulu. Kali ini dia menghabiskan akhir tahun
untuk berlibur di Jogja di rumah budenya, ibu Tasya.
“Lusa makan dulu!”
“Iya bude tanggung, nanti saja.”
Kembali Lusa membereskan
barang-barangnya untuk nanti dia paketkan ke Jakarta. Namun fokusnya teralih
saat sebuah surat berwarna coklat muda jatuh diantara selipan buku-bukunya.
Lusa mengambil surat itu dan ragu-ragi dia membukanya. Sebuah tulisan tangan
rapi tercetak disana.
Oktober
2014
Hujan.
Senja. Jogja
Kita
tidak pernah tahu bagaimana nantinya kita jatuh dan siapa yang membantu kita
untuk bangun dari rasa sakit akibat kita jatuh itu. Tapi saat kita merasa sakit
karena jatuh itulah yang membuat kita yakin bahwa kita masih hidup akan dan
pasti merasa sakit. Saya percaya bahwa setiap manusia pasti mengalami fase itu,
jatuh dan bangkit. Kamu tahu Lusa saat ini saya merasakan itu, merasa bahagia
dan sakit dalam waktu bersamaan. Saya sendiri nggak yakin apakah pertemuan yang
terbilang singkat ini bisa dinamakan takdir atau memang murni kebetulan. Tapi
saya nggak peduli, saya yakin dengan perasaan saya. Saya tahu hati ini telah
pergi bersamaan dengan kamu pergi dari hidup saya. Ya bukan seperti itu
poinnya, kenyataannya sayalah yang pergi. Jujur Lusa saya pergi dan tidak akan
pernah kembali, saya pergi ke dunia yang berbeda, mungkin ke neraka atau surga.
Ah apakah kedua hal itu benar-benar ada. Maaf saya tidak jujur dengan kamu,
saya memang ke tempat orang tua saya di Jepang, dalam rangka berobat. Entahlah
raga saya sudah capek kemoterapi terus menerus, tapi ya dari pada dikatakan
anak durhaka. Nggak lucu? Ya udahlah nggak usah dipaksa ketawa. Sebenarnya saya
cuma mau bilang sama kamu bahwa saya cinta sama kamu Lusa. Pengecut memang,
hanya saja saya harap kamu nggak membenci saya. Semoga kamu selalu bahagia di
Jogja, selamat tinggal Lusa benar-benar selamat tinggal.
Saya
tidak menyesal pernah bertemu dengan kamu barang sedetikpun, karena dengan
waktu sedetik itu saya percaya semesta telah membuat konspirasi dengan Pencipta
untuk mempertemukan saya dengan kamu. Saya harap kamu juga tidak menyesal.
Regrads,
Arkan
Lusa terguncang membaca surat itu, semua
perasaannya tumpah. Menutup bibirnya dengan tangan supaya tidak ada yang
mendengar Lusa menangis tanpa suara. Tubuhnya luruh di lantai. Hatinya carut
marut, pikirannya berputar-putar kembali ke dua tahun yang lalu. Saat dia
pertama bertemu dan mengelilingi Jogja dengannya. Lusa pernah menampiknya,
menyangkal perasaan yang tumbuh bukanlah suatu yang spesial. Tapi hari ini
surat dari Arkan meruntuhkan benteng yang dibuat Lusa. Benteng yang dia pasang
tinggi-tinggi kini hancur tak berwujud. Lusa sadar namun terlambat dan dia
menyesal. Dia sangat menyesal.
***
Suara terompet terdengar dipenjuru
kota Jogja, semua orang tumpah ruah dijalanan. Kota ini semakin dipenuhi lautan
manusia sesaat sebelum pergantian tahun. Pesta kembang api membuat orang ingin keluar dan melihat keindahaan
langit malam yang dipenuhi cahaya-cahaya itu. Selebihnya memilih untuk
mengadakan barbeque di rumahnya
masing-masing. Lusa memilih menghambur di alun-alun selatan bersama masyarakat
kota Jogja. Dia ingin memulai kembali hidupnya yang belakangan ini sedikit
berantakan menurut Tasya. Oleh karena itu akibat ajakan Tasya berakhirlah Lusa
di tempat ini. Alun-alun Selatan. Tempat yang malah membangkitkan kembali
ingatannya akan Arkan. Lusa mengontrol dirinya sendiri dia tidak ma uterus
menerus seperti ini.
“Lusa hitung mundur dong 10..9..8.”
Lusa menengok kearah Tasya yang
membawa sebuah terompet dan sesaat sebelum hitungan dilanjutkan Lusa menangkap
sosok itu. Laki-laki yang sangat mirip dengan dia.
“..7..6..5..”
Laki-laki itu tanpa diduga juga menatap
Lusa dan dia berjalan kearahnya disertai senyum khas juga kacamata yang
bertengger diatas hidungnya.
“
..4..3..2..1.”
“Happy
New Year!”
“Selamat
tahun baru!”
Terompet terdengar ditiup seiring
hitungan mundur diucapkan disisi lain kembang api juga dinyalakan dan menghiasi
langit malam dan terlihat sangat indah. Tubuh Lusa seperti terpaku pada
laki-laki itu hingga dia benar-benar nyata ada dihadapannya bukan delusinya
sendiri. Laki-laki yang membuat Lusa tak mampu berkata-kata. Arkan.
“Selamat tahun baru, Lusa.”
Melalui Jogja dia pertemuan itu ada
melalui Jogja pula perpisahan itu nyata. Jogja kota yang membuatnya merasakan
macam-macam perasaan yang mengubah hidup. Jogja yang menghadirkan luka serta bahagia
untuk Lusa.
Komentar
Posting Komentar