Langsung ke konten utama

Sampah Makanan yang Mengancam Secara Perlahan


        Sebagai salah satu penduduk padat dunia, Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks terhadap makanan. Pangan yang merupakan kebutuhan primer masyarakat jelas dekat dengan kehidupan sehari-hari semua orang. Akan tetapi topik mengenai lost food and waster food seolah asing, tidak pernah terdengar pada dialog atau pembahasan berita. Masyarakat seolah apatis dengan permasalahan ini sedangkan untuk setiap harinya saja sampah makanan terus-menerus menumpuk.
 

            Menurut Economist Intelligence Unit (EIU)dan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN)   Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia setelah Saudi Arabia. Menjadi hal yang miris saat banyak penduduk di Indonesia tidak bisa mengkonsumsi makanan sementara sampah makanan yang dihasilkan sangat tinggi. Banyaknya sampah makanan ini tidak hanya dihasilkan dari konsumsi masyarakat namun juga dari produksi dan distribusi makanan yang tidak sampai di tujuan. Maksudnya dalam pendistribusian bahan makanan yang mudah busuk sebelum sampai tujuan distribusi tersebut. Hal ini dikarenakan akses serta infrastruktur di bumi pertiwi yang (sangat) kurang memadai, khususnya di pulau-pulau terpencil.

Sebagian masyarakat memang kurang sadar akan bahaya dari tingginya sampah makanan. Masyarakat hanya berpikir apa yang dia konsumsi merupakan kepentingan dirinya sendiri, tanpa memedulikan bagaimana dampak lingkungan setelah pemborosan makanan. Perlu diketahui bahwa setiap orang di Indonesia menyumbang sekitar 300 kg sampah makanan setiap tahunnya. Padahal dalam setiap sampah makanan yang dihasilkan terkadung di dalamnya gas metana yang dapat meningkatkan efek rumah kaca serta pemborosan berbagai energi yang dihasilkan dari produksi makanan tersebut.

Kurangnya rasa cinta lingkungan dan penghargaan terhadap alam menjadi salah satu sebab pemborosan makanan. Selain itu ketidaktahuan akan bahaya waster food bagi lingkungan ini juga menjadi sebab lain masyarakat dengan gampangnya membuang makanan. Menjadi peringatan bahwa makanan merupakan hal general yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kita serta lingkungan. Perlu kita tekankan dalam diri kita sendiri jikapun kita tidak bisa berperan besar terhadap lingkungan, namun dengan kita menghargai makanan yaitu tidak menyisakan makanan yang kita makan hal itu telah memiliki pengaruh terhadap lingkungan.  

Lalu apa hal yang harus kita lakukan setelah ini? Masikah kita menyiksa bumi dengan hal kita anggap receh seperti tidak menghabiskan makanan. Atau apakah kita mau menjadi agent of change dengan selalu menghabiskan makanan yang ada di hadapan kita hari ini? Perubahan-perubahan kecil mungkin tidak akan terlihat secara instan, namun jika kita tidak memulainya sekarang, kita tidak akan pernah melihat hasil baik kecil ataupun besar. 

You can do it now! Start from yourself and your circle. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencarian Makna Pulang

Tempatku Pulang? Aku tak memilikinya Cuma aku punya tempat tinggal Aku punya Tapi bukan tempat untuk pulang Hanya tempat semua rutinitas terulang Apa makna dari pulang? Kehangatan dan keceriaan ada di dalamnya, katanya Kata siapa? Aku tanya kata siapa? Disaat banyak yang bergumul tentang kerinduaan Aku cuma diam Setiap detik aku cari makna kata “pulang” Setiap detik itu pula aku hanya berkutat pada pencarian tanpa jawaban Apakah pulang sama halnya seseorang yang menyambut kita dari dunia luar dan kembali ke rumah Ah benar rumah Apakah pulang adalah rumah? Atau rumah adalah pulang? Rumah Pulang Dan aku terus mencari Pencarian  

Asimilasi Budaya dan Religiusitas dalam Novel Hujan Bulan Juni

Sapardi yang identik dengan puisi mencoba melukiskan pikirannya dalam bentuk media baru yakni novel. Hujan Bulan Juni merupakan novel yang meliliki judul sama dengan puisi SDD sebelumnya. Akan tetapi dalam novel ini kita tidak akan menjumpai konsep yang selaras dengan puisi, atau dapat dikatakan antara novel dan puisi tidak ada kaitannya sama sekali. Walaupun antara keduanya tidak berkaitan, namun Sapardi tetaplah Sapardi yang setia memunculkan gaya bahasa khas dalam rangkaian kalimat yang dia tulis. Banyak pembaca yang menginginkan novel ini lebih atau setidaknya sepadan dengan kualitas puisi Sapardi. Jika kita juga berharap seperti itu tentu kita akan dihadapkan dengan kekecewaan. Karena sejatinya seorang pembaca seharusnya bisa mengesampingkan karya sastra yang memilki konseptual berbeda. Apakah menjadi bijak jika membandingkan antara dua bentuk karya yang berbeda? Tentu tidak karena puisi dan novel memiliki bentuk dan konteksnya sendiri.         ...

Kita dan Kecewa

  “Bagaimana pun bentuknya kekecewaan itu mempunyai rasa yang sama. Pahit dan berbaur getir yang membuat dada membutuhkan ruang hanya sekedar untuk menghela napas" –babibinal   (Source: Pinterest) Hidup layaknya aliran air   terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering .Air. Aku selalu menyukai hadirya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Hingga rasa kecewa itu pergi dan membuat hati ini sedikit bisa bernapas bebas. Pikiran dan hati membuatku seolah digamblingkan dengan keselarasan. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Seolah dua buah kutub yang berbeda, mereka selalu   tolak-menolak. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Merasa dikecewakan oleh suatu keadaan membuat otak berpikir perbuatan itu tak pan...